url

Budaya yang Menghambat dan Memicu Kemajuan Negara

Budaya

Salam semuanya ,😀 sekarang saya akan berbagi mengenai kebudayaan yang menghambat kemajuan dalam bangsa kita serta yang memacu pada kemajuan negara kita . Hal ini kadang sering kita abaikan dalam kehidupan sehari-hari kita padahal ruang lingkup dimasyarakat amat luas, oleh karena itu kita patut mengetahui tentang kebudayaan apa yang termasuk dalam hal dua tadi.

Here we go !😀

Sebelumnya kita akan mengenal lebih dahulu apa itu arti ataupun maksud dari Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.

Budaya lokal merupakan budaya yang dimiliki oleh suatu wilayah dan mencerminkan keadan sosial di wilayahnya. Beberapa hal yang termasuk budaya lokal diantaranya adalah :

1.      cerita rakyat,

2.      lagu daerah,

3.      ritual kedaerahan,

4.      adat istiadat daerah,

5.       tarian,

6.      rumah adat,

7.      alat musik,

8.      kesenian,

9.      pahat, ukir, patung.

10.  dan segala sesuatu yang bersifat kedaerahan.

Salah satu masalah utama dalam bidang pendidikan dan kebudayan adalah masalah identitas kebangsaan. Dengan derasnya arus globalisasi dikhawatirkan budaya bangsa, khususnya budaya lokal akan mulai terkikis. Budaya asing kini kian mewabah dan mulai mengikis eksistensi budaya lokal yang sarat makna. Agar eksistensi budaya lokal tetap kukuh, maka diperlukan pemertahanan budaya lokal.

Bangsa Indonesia tidak akan mungkin mengelak dari globalisasi, sebagai konsekuensi dari posisinya yang menyemesta itu dan konsekuensi zaman globalisasi. Yang bisa kita lakukan hanyalah meminimalisir dampak negatif globalisasi. Globalisasi dan modernisasi pasti terjadi, dan tidak terelakkan. Era globalisasi yang diboncengi neoliberalisme dan modernisasi melaju diiringi pesatnya revolusi IPTEK (Ilmu pengetahuan dan teknologi).

Dunia tanpa batas yang menganut aliran kebebasan, kebebasan berkreatifitas, kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi. Bila kita duduk di suatu kursi akan melihat dan berkomunikasi dengan orang di tempat yang paling jauh di dunia luar sana, maka kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi mendekatkan jarak dan waktu. Kondisi tersebut secara tidak langsung telah melahirkan budaya baru dan mempengaruhi tatanan budaya masyarakat Indonesia. Era globalisasi seperti sekarang ini akan berpengaruh terhadap segala bidang kehidupan, termasuk di dalamnya adalah bidang pendidikan dan kebudayaan. Salah satu kekuatan utama dalam bidang pendidikan dan kebudayaan adalah masalah identitas bangsa.

Oleh karena itu, jati diri bangsa adalah sesuatu yang harus mati-matian diperjuangkan. Jangan sampai jati diri bangsa ini lama-lama luntur seiring dengan derasnya informasi dari luar. Fenomena pengglobalan dunia harus disikapi dengan arif dan positif thinking karena globalisasi dan modernisasi sangat diperlukan dan bermanfaat bagi kemajuan. Namun tidak boleh lengah dan terlena, karena era keterbukaan dan kebebasan itu juga menimbulkan pengaruh negatif yang akan merusak budaya bangsa. Menolak globalisasi bukanlah pilihan tepat, karena itu berarti menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bukankah kita tidak mau ketinggalan dalam IPTEK dengan negara lain. Akan tetapi perlu kecerdasan dalam menjaring dan menyaring efek globalisasi.

Pudarnya budaya bangsa disebabkan oleh banyak faktor. Dalam kenyataannya di dalam struktur masyarakat terjadi ketimpangan sosial, baik dilihat dari status maupun tingkat pendapatan. Kesenjangan sosial yang semakin melebar itu menyebabkan orang kehilangan harga diri. Budaya lokal yang lebih sesuai dengan karakter bangsa semakin sulit dicernakan, sementara itu budaya global lebih mudah merasuk.

Salah satu contoh budaya yang dapat menghambat kemajuan bangsa :

  • BUDAYA KORUPSI

Diakui atau tidak korupsi sudah membudaya – atau dengan kata lain menjadi budaya – di tengah kehidupan bangsa Indonesia atau secara spesifik di dunia politik dan birokrasi di Indonesia dan yang berkaitan dengannya. Apabila ada sebagian pengamat, pakar, ilmuwan atau anggota masyarakat yang menyangkal hal tersebut, barangkali hanya berusaha berprasangka baik terhadap bangsanya sendiri, selebihnya – barangkali – menutup mata dan telinga terhadap kenyataan yang ada.

Korupsi sebagai faktor penghambat pembangunan dan kemajuan bangsa sudah saatnya dibedah dan diteliti dengan seksama, baik asal muasalnya atau pun penyebarannya. Bisa jadi sifat korupsi sudah membentuk gen tersendiri sehingga diperlukan juga pakar biologi molekuler untuk turut mengungkap dan mengetahui sifat korup dari akarnya (sifat bawaan). Bukankah sudah disinyalir dalam Islam bahwa makanan haram – baik zatnya maupun cara memperolehnya – yang diberikan kepada seseorang dikhawatirkan akan menjadikan anak keturunannya juga akan berperilaku buruk dan jahat ? Hal ini hanya bisa dijelaskan oleh ilmu biologi molekuler yaitu adanya perubahan genetik yang diturunkan pada generasi berikutnya yang berisi kode-kode genetik sifat jahat (korup) tersebut. Atau dengan kata lain seorang koruptor akan sangat memungkinkan untuk menurunkan keturunan yang juga menjadi koruptor nantinya. Seperti kalau ditinjau dari ilmu genekeologi mungkin bisa dipelajari sejarah keturunan seorang koruptor, apakah mungkin ada di antara nenek moyangnya yang terlibat atau menjadi seorang koruptor juga.

Salah satu contoh budaya yang dapat memacu pada kemajuan bangsa :

 

  • BUDAYA KRITIK DAN MENGKRITIK

Budaya kritik mengkritik menjadi modal utama karena itu merupakan upaya untuk mendapatkan hasil yang sebaik-baiknya. Beberapa keuntungan dari budaya kritik mengkritik adalah yang pertama, terbentuknya sebuah keputusan atau kebijakan yang mampu untuk mencakup semua bagian tanpa adanya satu dua pihak yang terugikan. Yang kedua, budaya kritik mengkritik adalah upaya evaluasi untuk terus melakukan perbaikan dan juga kecocokan dengan situasi karena dunia kehidupan itu dinamis sehingga terkadang perlu adanya upaya untuk mereformasi suatu kebiasaan yang telah ada. Yang ketiga, terjadinya suatu kebiasaan baru yakni budaya keterbukaan dan ini yang paling penting karena budaya keterbukaan seperti ini menjadi penentu akan generalisasi kesejahteraan. Tidak heran jika Negara Amerika menjadi pusat para Ilmuwan, teoritikus dan juga para ahli disegala macam bidang karena mereka menjadikan budaya kompetisi – dalam konteks kebaikan – untuk semua kehidupan masyarakat di Negaranya.

Budaya kritik mengkritik dalam suatu Negara bisa mencakup banyak hal seperti: politik, edukasi, terkhnologi, kerja dsb. semua dituntut untuk senantiasa melakukan upaya perbaikan dan hasil yang maksimal. Kehidupan (politik, edukasi, tekhnologi) itu selalu terkait dengan kehidupan yang lain oleh karena itu bagaimana caranya sebuah kehidupan individu maupun kelompok mampu memberikan kontribusi yang baik bagi kehidupan lainnya.

Menengok kehidupan di Indonesia yang kompleks dengan masalah di berbagai bidang alangkah baiknya menerapkan dan juga mengadopsi budaya kritik mengkritik yang terbuka. Budaya kritik mengkritik bisa disalurkan melalui banyak cara apakah melalui surat menyurat, media massa, atau antitesa jika dalam lingkup akadimis. Dari sinilah diharapkan timbul budaya kompetisi yang positif sehingga mampu secara bersama memajukan Bangsa. Media massa diharapkan mampu menjembatani sebagai sarana kritik mengkritik yang sopan dan etis. Baik media elektronik maupun tulis diharapkan mampu untuk memberikan dan menyalurkan suara, opini dan kritik suatu pihak kepada pihak yang lain. Efek dari adanya media massa akan menyebabkan efek kritik yang “booming” karena kritik dan opini akan dibaca semua orang bukan hanya pihak yang sedang dikritik.

Pendapat saya :

Pada umumnya kebudayaan yang baik tentu saja akan berjalan dengan baik apabila diterapkan dalam lingkungan bernegara yang baik pula sedangkan bila kebudayaan buruk terus-menerus kita terapkan maka tidak lain dampaknya yakni akan sangat menghambat kemajuan negara kita yang dalam tahap perkembangan.

Sumber :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s